DAERAH ENTERTAIMENT LINGKUNGAN MERANGIN NASIONAL PEMERINTAHAN PROVINSI JAMBI

Konsorsium IPHD Satunama Launching Dua Buku Pengalaman Lapangan.

Jambi Terkini | Fakta untuk Perubahan

Senin, 12 Februari 2018

Foto; Buku Hutan Desa Dan Hutan Adat yang baru di Launching

MERANGIN. JT – Bersamaan dengan berakhirnya proyek Institusionalisasi Pengelolaan Hutan Desa di Merangin, dilangsungkan launching buku tentang integrasi UU Desa dengan Perhutanan Sosial dan Buku tentang Kepayang.

Launching tersebut berlangsung di Hotel Royal, Bangko pada Senin 12 Februari 2018. Program ini difasilitasi oleh GPM Kehati dengan pendanaan dari MCA Indonesia.

Sebagaimana telah diketahui, Pemerintahan Jokowi sedang gencar mengalokasikan hutan untuk dapat dikelola oleh rakyat melalui berbagai macam model perhutanan sosial yang salah satunya adalah Hutan Desa. Di sisi lain, pada praktek di lapangan, kebijakan tersebut menemui kendala lantaran keterbatasan biaya serta personil kehutanan.

Pada saat yang sama, UU Nomor 6 tahun 2014 tentang Desa memberikan peluang kepada Desa untuk dapat membangun desanya termasuk membangun hutan di wilayahnya.

Program IPHD yang dilangsungkan oleh Konsorsium Satunama di Merangin selama 2 tahun ini mencoba untuk mengintegrasikan isu desa dengan isu perhutanan sosial.

Buku ini merupakan hasil pemahaman serta saripati dari pengalaman masyarakat lima desa di Merangin bersama dengan Konsorsium Satunama selama 2 tahun terakhir dalam mencoba memperjuangkan perhutanan sosial yang diintegrasikan dengan perencanaan desa secara partisipatif.

Yando Zakaria, mantan tenaga ahli DPR untuk RUU Desa, merekomendasikan buku ini untuk dibaca oleh para penggerak reforma agraria dan perhutanan sosial. “Rekaman proses yang layak baca. Kaya pengalaman lapangan. Bermanfaat bagi teman-teman yang sedang mendorong implementasi program reforma agraria dan perhutanan sosial.”

Buku satu lagi yang dilaunching yaitu tentang kepayang dengan judul: “Kepayang dan Pengolahan Minyak Kepayang.” Buku ini ditulis oleh Ir. Wafit Dinarto, MSi, Dekan Fakultas Agro-industri Universitas Mercu Buana Yogyakarta.

Buku ini secara khusus mengulas tanaman kepayang mulai dari pembibitan, perawatan, pemanenan, hingga pengolahan buah kepayang menjadi minyak goreng dan produk turunan lainnya. Ditulis oleh pakar agro ekonomi dari Universitas Mercu Buana Yogyakarta dengan referensi dari keilmuan dan juga pengalaman lapangan dari pendampingan di Merangin.

Foto; Buku tentang pengolahan minyak kepayang

Buku tentang Kepayang boleh jadi merupakan yang pertama kali di Indonesia yang secara komperhensif mengulas detail tentang kepayang.

Dr. Ir. Didiet H Swasono, M.P, pakar agro-ekonomi Universitas Mercu Buana Yogyakarta mengungkapkan bahwa kepayang adalah indigenous commodity atau komoditas lokal Merangin yang ke depan sangat menjanjikan. “Pasar minyak kepayang ke depan tidak akan diarahkan dalam pasar minyak goreng. Karena nanti akan kalah dengan minyak goreng sawit yang sudah masif.

Pasar minyak kepayang ke depan akan menembus ke pasar bahan kosmetik dan bahan jasa spa yang bernilai ekonomis tinggi.”

Sedangkan Arsih, Program Manager Konsorsium IPHD Satunama menyampaikan capaian project selama kurang lebih 18 bulan berjalan. Sampai bulan Januari 2018, konsorsium telah melibatkan sekitar 1.500 anggota masyarakat untuk berpartisipasi dalam 50 kegiatan, dan 1.300 orang telah terlibat dalam 10 pelatihan yang diadakan konsorsium. Dalam paparan yang dipresentasikan, tercatat ada 17 capaian yang terukur, dan beberapa cerita sukses.

“Dari 11 output, 7 output telah tercapai 100%, 2 output tercapai 75%, 1 output tercapai 50% dan 1 output tercapai 25%. Output yang tidak 100% tercapai dikarenakan salah satunya oleh ketiadaan dukungan regulasi di tingkat kabupaten. Oleh karena itu, workshop menjadi penting untuk memastikan skema keberlanjutan dengan OPD”, tuturnya.

(VIDI)